Makalah keperawatan anak

Bab II
Konsep Teori
Konsep teori I
A. Perspektif keperawatan anak
1. Filosofi keperawatan Anak
Perawatan Berfokus pada anak Keluarga merupakan unsur penting dalam perawatan anak, mengingat anak bagian dari keluarga. Kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingk keluarga, untuk itu keperawatan anak harus mengenal keluarga sebagai tempat tinggal atau sebagai konstanta tetap dalam kehidupan anak (Wong, perry 2002)
2. Morbiditas
Prevalensi penyakit khusus dalam populasi pada waktu tertentu. Angka morbiditas ini mungkin menunjukkan penyakit akut, kronik atau ketidakmampuan. Penyakit yang didapat pada masa kanak – kanak bervariasi sesuai usia, seperti penyakit ISPA.
3. Keperawatan pediatrik
a. Asuhan berpusat pada keluarga karena keluarga merupakan lingkungan paling dekat dalam hidup anak. Dua konsep dasar nya yaitu memampukan dan pemberdayaan. Memampukan anggota keluarga menunjukkan kompetensi dalam memenuhi kebutuhan anak, sedangkan pemberdayaan merupakan interaksi tenaga kesehatan dengan keluarga.
b. Asuhan atraumatik
Penyediaan asuhan terapeutik dalam lingkungan oleh tenaga kesehatan melalui intervensi yang mengahpuskan/ memperkecil distress psikologis dan fisik pada anak.
4. Berpikir kritis dalam proses keperawatan pediatrik
Berpikir dengan tujuan dan mengarah sasaran yang membantu individu membuat penilaian berdasarkan data bukan perkiraan (Alfaro, Lefevre. 1995). Didalam proses keperawatan pedaitrik tenaga kesehatan diharapkan mampu untuk berpikir dengan kulaitas yang tinggi mengingat anak masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.

B. Pertumbuhan dan perkembangan anak
1. Pengertian
Pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan berat (gram, kilogram), satuan panjang (cm, m), umur tulang, dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen dalam tubuh). Perkembangan (development) adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi sel-sel, jaringan, organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. (Soetjiningsih, 1998; Tanuwijaya, 2003).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan
a. faktor dalam(internal), terdiri dari perbedaan ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, kelainan genetik, dan kelainan kromosom.
b. faktor luar (eksternal/lingkungan). gizi, stimulasi, psikologis, dan sosial ekonomi. Gizi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang. Hasil penelitian tentang pertumbuhan anak Indonesia (Sunawang, 2002) menunjukkan bahwa kegagalan pertumbuhan paling gawat terjadi pada usia 6-18 bulan karena keadaan gizi ibu selama hamil, pola makan bayi yang salah, dan penyakit infeksi.
c. stimulasi dan psikologis.
d. faktor sosial ekonomi.
3. Deteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan
Penilaian pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan sedini mungkin sejak anak dilahirkan. Penilaian pertumbuhan dan perkembangan meliputi dua hal pokok, yaitu penilaian pertumbuhan fisik dan penilaian perkembangan.
penilaian pertumbuhan fisik yang dapat digunakan adalah:
o Pengukuran Berat Badan (BB)
o Pengukuran Tinggi Badan (TB)
o Pengukuran Lingkar Kepala Anak (PLKA)
Untuk penilaian perkembangan anak Salah satu instrumen skrining yang dipakai secara internasional untuk menilai perkembangan anak adalah DDST II (Denver Development Screening Test).
4. Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
a. Gangguan Pertumbuhan Fisik
Gangguan pertumbuhan fisik meliputi gangguan pertumbuhan di atas normal dan gangguan pertumbuhan di bawah normal. Dapat dilihat dari :
- Pemantauan berat badan
- Lingkar kepala
- Gangguan penglihatan , Jenis gangguan penglihatan yang dapat diderita oleh anak antara lain adalah maturitas visual yang terlambat, gangguan refraksi, juling, nistagmus,
- Gangguan pendengaran , tuli konduksi dan tuli sensorineural.
b. Gangguan perkembangan motorik
c. Gangguan perkembangan bahasa
d. Gangguan Emosi dan Perilaku
C. Bermain
1. Pengertian bermain
Menurut Hurlock (1999) Bermain merupakan setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain terdiri dari Bermain aktif ( membutuhkan banyak energi bagi anak ) dan bermain pasif (tidak membutuhkan banyak energi bagi anak).
2. Fungsi bermain
a. Perkembangan sensorimotorik
Pada anak usia toddler akan lebih banyak memusatkan pada aktivitas fisik. Melalui permaianan sensori motorik anak menggali sifat dunia fisik.
b. Perkembangan intelektual
Permainan memberikan sarana untuk mempraktikkan dan mengembangkan keterampilan berbahasa. Mempraktekkan pengalaman yang lalu ke dalam berbagai persepsi.
c. Sosialisasi
Belajar untuk saling memberi dan menerima, belajar menerima kritikan dari teman sebayanya.
d. Kreativitas
Anak bereksperimen dan mencoba ide mereka dan merasakan kepuasan dari apa yang telah mereka lakukan.
e. Kesadaran diri
Anak belajar mengenali siapa diri mereka dan dimana posisi mereka serta membandingkannya dengan anak yang lain.
f. Manfaat terapeutik
Selama bermain anak memerlukan penerimaan dari orang dewasa dan didampingi.
g. Nilai moral
Anak belajar nilai nilai moral melalui interaksi dalam bermain bersama teman sebayanya.
3. Karakter sosial permainan
a. Permainan pengamat
Anak memperhatikan apa yang dilakukan oleh teman temannya.
b. Permainan tunggal
Anak melakukan kegiatan bermain dengan alat permainan yang berbeda di tempat yang sama dengan anak – anak lain.
c. Permainan paralel
Anak bermain secara mandiri bersama anak – anak lain namun saling berinteraksi.
d. Permainan asosiatif
Anak bermain bersama dengan aktivitas yang serupa.
e. Permainan kooperatif
Mereka bermain untuk mencapai tujuan akhir sehingga mereka bekerja sama.

4. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aktivitas bermain (Soetjiningsih, 1995):
a. Ekstra energi
b. Waktu
c. Alat permainan
d. Ruangan untuk bermain
e. Pengetahuan cara bermain
f. Teman bermain
D. Hospitalisasi
1. Pengertian
Menurut stevens (1999), hospitalisasi dapat diartikan sebagai akibat adanya perubahan psikis yang dapat menjadi sebab anak di rawat dirumah sakit.
2. Dampak hospitalisasi anak usia toddler
Dampak hospitalisasi pada anak berbeda – beda tergantung pada Persepsi anak terhadap sakit dan dirawat, Reaksi orang tua terhadap penyakit. Pada umum nya anak usia toddler akan lebih merasakan :
a. Cemas
b. Kehilangan kebebasan perkembangan
c. Perasaan di lukai
3. Hospitalisasi anak usia toddler
Sakit dan di rawat merupakan suatu keadaan krisis bagi anak karena anak berusaha untuk menyesuaikan diri dari perubahan baik itu lingkungan dan kebiasaan sementara anak mempunyai keterbatasan mekanisme koping. Hospitalisasi akan menjadi pengalaman yang menakutkan bagi anak (Nursalam, 2005).
Respon perilaku anak usia todler terhadap kecemasan perpisahan melalui tiga tahap , yaitu tahap protes, putu asa dan pengingkaran.
Tahap protes anak menunjukkan sikap menolak dengan menangis , menjerit bahkan menolak perhatian dari orang lain.
Tahap putus asa anak menunjukkan perilaku sedih, tidak ingin bermain, dan kurang aktif.
Tahap pengingkaran anak sudah mulai bisa menyukai lingkungan dan melepaskan perpisahan. (Supartini, 2004)

Konsep teori II
A. Komunikasi pada bayi , anak dan keluarga
1. Komunikasi pada bayi
Komunikasi pada bayi yang umumnya dapat dilakukan adalah dengan melalui gerakan-gerakan bayi dan menggunakan komunikasi non verbal dengan tehnik sentuhan seperti mengusap, menggendong, memangku, dan lain-lain.
2. Usia Todler dan Pra Sekolah (1-2,5 tahun, 2,5-5 tahun)
Perkembangan komunikasi pada usia ini dapat ditunjukkan dengan perkembangan bahasa anak dengan kemampuan anak sudah mampu memahami kurang lebih sepuluh kata, pada tahun ke dua sudah mampu 200-300 kata dan masih terdengan kata-kata ulangan.
Komunikasi pada usia tersebut sifatnya sangat egosentris, rasa ingin tahunya sangat tinggi, inisiatifnya tinggi, kemampuan bahasanya mulai meningkat, setiap komunikasi harus berpusat pada dirinya, takut terhadap ketidaktahuan dan perlu diingat bahwa pada usia ini anak masih belum fasih dalam berbicara (Behrman, 1996).
Secara non verbal kita selalu memberi dorongan penerimaan dan persetujuan jika diperlukan, jangan sentuh anak tanpa disetujui dari anak, bersalaman dengan anak merupakan cara untuk menghilangkan perasaan cemas, menggambar, menulis atau bercerita dalam menggali perasaan dan fikiran anak di saat melakukan komunikasi.
3. Cara komunikasi dengan anak
1. Melalui orang lain atau pihak ketiga
2. Bercerita
3. Memfasilitasi
4. Biblioterapi
5. Meminta untuk menyebutkan keinginan
6. Pilihan pro dan kontra
7. Penggunaan skala
8. Menulis
9. Menggambar

B. Kebutuhan gizi bayi dan anak
1. Syarat-syarat makanan untuk bayi dan anak:
• Memenuhi kecukupan energi dan semua zat gizi sesuai dengan umur.
• Susunan hidangan disesuaikan dengan pola menu seimbang, bahan makanan yang tersedia setempat, kebiasaan makan, dan selera terhadap makan
• Bentuk dan porsi makanan disesuiakan dengan daya terima, toleransi, dan keadaan faal bayi/anak.
• Memperhatikan kebersihan perorangan dan lingkungan
2. Makanan Bayi
Makanan bayi sehat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
• Makanan utama ASI/PASI
• Makanan pelengkap yang terdiri atas buah-buahan, biskuit, makanan lumat, dan makanan lembek.
3. Pemberian Makanan Pelengkap
Makanan pelengkap ini diberikan sesudah bayi berumur 3-4 bulan. Tujuan pemberian makanan pelengkap:
a. Melengkapi zat-zat gizi yang kurang terdapat dalam ASI/PASI
b. Mengembangkaan kemampuan bayi untuk menerima bermacam makanan dengan berbagai rasa dan tekstur.
4. Kebutuhan gizi
a. Energi
Kebutuhan energi bayi dan anak relatif lebih besar bila dibandingkan dengan orang dewasa
b. Protein
c. Air
Air merupakan zat gizi yang sangat penting bagi bayi dan anak, karena bayi dan anak akan lebih mudah terserang penyakit yang menyebabkan kehilangan air dalam jumlah banyak.
d. Lemak
Untuk bayi dan anak dianjurkan 1-2% energi total berasal dari asam lemak esensial. Asam lemak esensial dibutuhkan untuk pertumbuhan dan untuk memelihara kesehatan kulit.
e. Hidrat arang

5. Makanan Anak Prasekolah (1-6 Tahun)
Golongan ini sangat rentan terhadap penyakit gizi dan penyakit infeksi. Syarat makanan yang harus diberikan adalah makanan yang mudah dicerna dan tidak merangsang (tidak pedas). Umur 1-3 tahun Anak bersifat konsumen pasif, makanannya tergantung pada apa yang disediakan ibu. Umur 4-6 tahun Anak bersifat konsumen aktif, mereka telah dapat memilih makanan yang disukai

C. Imunisasi
Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah tindakan pemberian kekebalan terhadap serangan penyakit tertentu dengan jalan memasukkan suatu zat antibody ke dalam tubuh.
Kekebalan atau imunitas dibagi menjadi beberapa macam :
a. Imunitas Pasif Bawaan (Alami)
b. Imunitas Pasif Buatan
c. Imunitas Aktif Bawaan (Alami)
d. Imunitas Aktif Buatan
Imunisasi yang diberikan pada anak :
a. Imunisasi DPT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung selama 1-2 hari.
b. Imunisasi TT
Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. Efek samping dari tetanus toksoid adalah reaksi lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa kemerahan, pembengkakan dan rasa nyeri.
c. Imunisasi Polio
Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai
d. BCG
e. Imunisasi campak
f. Hepatitis B

D. Pengkajian fisik
Hal – hal yang dipersiapkan sebelum pengkajian :
1. Meminimalkan stress dan kecemasan
2. Membantu hubungan saling percaya
3. Memungkinkan persiapan anak
4. Menjaga keamanan hubungan antara orang tua anak
5. Memaksimalkan keakuratan
Pemeriksaan fisik :
1. Pengukuran pertumbuhan
a. Berat badan
b. Tinggi badan (panjang badan)
c. Ketebalan lipatan kulit
d. Lingkar lengan
e. Lingkar kepala
2. Pengukuran fisiologis
a. Suhu
b. Pernapasan
c. Nadi
Tingkatan nadi:
Tingkat 0 : tidak dapat diraba
Tingkat 1: sulit untuk diraba, lemah, halus
2: sulit diraba, dpat lenyap dengan tekanan
3 : mudah diraba, tidak mudah hilang dengan tekanan (normal)
4: kuat, berdenyut, tidak hilang dengen tekanan
d. Tekanan darah
Daerah yang dapat digunakanuntuk mengukur tekanan anak yaitu Lengan atas( arteri brakhialis) lengan depan ( arteri radialis),paha (arteri poplitea)
3. Penampilan umum
a. Kulit
b. Kelenjar limfe
c. Kepala leher
d. Mata
e. Telinga
f. Hidung
g. Dada
h. Abdomen
i. Genetalia
j. Punggung dan ektremitas
4. Reflek pada bayi
a. Berkedip
b. Tanda babinski
c. Merangkak
d. Menari atau melangkah
e. Ekstrusi
f. Galant’s (inkuvasi badan)
g. Moro’s
h. Neck rghting
i. Menggenggam (palmar grasp)
j. Rooting
k. Kaget (startle)
l. Mengisap
m. Tonic neck

0 komentar:

Poskan Komentar